Saturday, February 1, 2020

3 Jenis Krisis Di Pasar Saham


3 Jenis Krisis di Pasar Saham Yang Perlu Anda Ketahui

Dalam berinvestasi di pasar saham pasti banyak investor yang takut jika mendengar kata krisis, karena dapat berdampak sangat besar pada saham yang kita investasikan , saham saham akan menurun dan banyak saham yang terdiskon, dan para investor pasti sudah takut dan cepat cepat segera menjual sahamnya. Padahal kesempatan terbesar untuk meraih keuntungan besar di pasar saham adalah ketika semua orang takut. Saat itulah adalah waktu yang tepat untuk kita mengumpulkan saham-saham mutiara yang terdiskon sangat murah. Krisis iu sendiri ada beberapa jenisnya, tidak hanya melulu berbicara tentang kriris  ekonomi dunia. Jika dapat menjelaskannya dengan bahasa saya sendiri, maka krisis itu ada tiga macam, yang bisa menjadi peluang bagi kita dalam berinvestasi.

  • Global Financial Crisis (GFC)
Dalam hal ini maksudnya krisis ekonomi dunia yang memungkinkan besar akan terjadi satu kali setiap 10 tahun. Krisis ini adalah krisis yang paling mengerikan bagi kita semua. Harapanya dengan membaca artikel ini anda menjadi memiliki pandangan dari sisi positifnya sehingga bisa ikut menghasilkan profit yang besar. Inga, tidak ada yang bisa menghentikan krisis ini dan tidak ada yang tahu pasti ini kapan terjadinya. Jadi suka atau tidak suka, krisis pasti akan terjadi. Secara skill anda sudah siap atau belum?

 Baca Juga:Cara menganalisa price to earning ratio
  • Industry Crisis 
adalah krisis yang menimpa sektor tertentu. Misalnya penjualan properti yang kuang baik, maka sekto properti bisa mengalami penurunan saham yang sangat dalam. Tapi apakah mereka akan turun terus? Tentu tidak. Ketika saham-saham perusahaan seperti properti ini terdiskon, kita bisa mengoleksinya terlebih dahulu sebelum sektor ini mengalami peningkatan penjualan. JIka beberapa tahun terakhir ini anda mengamati sektor batubara anda akan mendapatkan hal yang sama. Harga batubara per tonya mengalami penurunan yang cukup tajam dan biaya produksinya lebih tinggi dibandingkan penjualanya. Sebagai contoh perusahaan Indika Energi (INDY), Lo Kheng Hong membeli saham INDY ketika harganya berada di sekitar 100 rupiah, anda tahu, pada bulan november 2017, Harga per lembar saham INDY mencapai 2810 per lembar, Artinya profitnya sudah mencapai 28 kali lipat!
Warren Buffet sendiri, ditengah anjloknya harga minyak dunia, ia juga banyak membeli perusahaan-perusahaan energi migas dan berani mengambil posisi yang besar. Perusahaan yang ia beli diantaranya adalah Kinder Morgan, Suncor Energy, dan Philips 66. Warren Buffet justru membeli lebih banyak saham ketika banyak investor lain panik dan menjual semua sahamnya.

Baca Juga: 3 strategi saham
  • Company Crisis
Maksudnya adalah krisis perusahaan, berbeda dengan krisis sebelumnya yang terjadi pada keseluruhan sektor tersebut. Krisis ini hanya terjadi pada perusahaan itu sendiri. Entah itu karena faktor korupsi di dalam perusahaan sehingga hilangnya kepercayaan investor secara jangka pendek, sehingga sahamnya mengalami penurunan. atau juga bisa faktor utang yang dimiliki perusahaan itu, sehingga dalam proses menyelesaikan utang tersebut banyak investor mengalami ketakutan dan berlomba-lomba untuk menjual sahamnya, ingat dengan apa yang dilakukan oleh Warren Buffet terhadap perusahaan Bank of Amerika yang tersangkut hukum terkait dengan hipoteknya? sema pemegang saham pasti rata-rata ketakutan dan menjual sahamnya. Tapi Buffet justru berinvestasi kepada Bank tersebut dan menghasilkan keuntungan miliaran dollar. Sumber Anak Muda Miliarder Saham

"Jadilah takut ketika semua orang serakah,
dan jadilah serakah ketika semua orang takut"  

Baca Juga: cara mengetahui laporan keuangan


Previous Post
Next Post

0 comments: